Beranda Internasional Alasan Jepang Enggan Menerima Pengungsi Suriah

Alasan Jepang Enggan Menerima Pengungsi Suriah

102
0
Sebarkan
Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe menilai Jepang harus menanggulangi krisis angka kelahiran dan populasi yang menua, sebelum menerima pengungsi Suriah. (Reuters/Andrew Kelly)
Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe menilai Jepang harus menanggulangi krisis angka kelahiran dan populasi yang menua, sebelum menerima pengungsi Suriah. (Reuters/Andrew Kelly)

Jakarta, sewarga.com – Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe berupaya menampik kritik pedas publik internasional terkait kebijakan pemberian suaka Jepang yang dinilai sangat ketat, sementara ada ratusan ribu imigran dari negara-negara berkonflik seperti Suriah membutuhkan perlindungan.

Dilaporkan The Guardian pada Rabu (30/9), pada pertemuan Sidang Umum PBB di New York, Abe menyatakan bahwa Jepang harus meningkatkan standar hidup rakyatnya sendiri sebelum mempertimbangkan menerima pengungsi Suriah.

Pernyataan itu terlontar saat Abe mengumumkan bantuan sebesar US$1,6 miliar untuk membantu warga Suriah dan Irak yang terjebak dalam konflik di Timur Tengah.

Abe selama ini secara konsisten menolak mepertimbangkan kemungkinan menerima pengungsi di Jepang. Tahun lalu saja, Jepang menerima 5.000 pengajuan suaka namun hanya mengabulkan 11 suaka.

Abe menegaskan Jepang harus dapat menanggulangi krisis angka kelahiran dan populasi yang kian menua. Selain itu, Jepang harus meningkatkan partisipasi perempuan di pasar tenaga kerja.

“Ini adalah masalah demografi. Sebelum menerima imigran atau pengungsi, kami perlu meningkatkan peran perempuan dan orang tua serta menaikkan angka kelahiran. Ada banyak masalah yang harus kami selesaikan sebelum menerima imigran,” kata Abe seusai berpidato di mimbar PBB.

Abe menyatakan Jepang, yang saat ini tengah mengupayakan menjadi anggota tetap di Dewan Keamanan PBB, tidak bertanggung jawab jika tidak berupaya menyelesaikan akar masalah yang menyebabkan krisis pengungsi.

“Jepang ingin berkontribusi dengan mengubah kondisi yang menyebabkan pengungsi. Penyebab tragedi ini adalah maraknya tindak kekerasan dan terorisme, serta kemiskinan. Dunia harus bekerja sama agar mereka (para pengungsi) menemukan cara untuk keluar dari kemiskinan,” tutur Abe.

Dalam paket bantuan terbarunya, Jepang menggelontorkan dana senilai US$810 juta untuk pengungsi dan mereka yang terusir dari rumahnya di Suriah dan Irak. Jumlah ini tiga kali lebih besar dari tahun sebelumnya.

Selain itu, Jepang juga mendonasikan US$750 juta untuk mendanai upaya perdamaian di Timur Tengah dan Afrika.

Berbagai kelompok pemerhati HAM mengecam langkah negara-negara makmur seperti Jepang, Rusia dan Korea Selatan yang seakan menutup mata pada arus imigran di Eropa dan Timur Tengah.

Meski demikian, tak dipungkiri Jepang menggelontorkan dana yang besar untuk membantu pengungsi. Tahun lalu, Jepang menyumbang US$ 181,6 juta untuk badan pengungsi PBB. Jepang menjadi negara dengan sumbangan terbesar kedua setelah AS.

Dari 60 pengungsi Suriah yang tinggal di Jepang dan mengajukan suaka, hanya tiga orang yang dikabulkan, sementara 30 orang lainnya diberi izin tinggal jangka panjang.

Bukan hanya Jepang, sejumlah negara Timur Tengah dikritik oleh Presiden Dewan Uni Eropa, Donald Tusk, karena tidak menawarkan untuk menampung pengungsi dari Suriah.

“Banyak negara di sini menanggulangi masalah (Suriah) dengan cara yang mudah: yaitu menolak imigran dan pengungsi memasuki wilayah mereka,” kata Tusk di New York.


Artikel ini ditulis oleh kontributor. Segala proses penulisan diluar tanggung jawab sewarga. Sewarga adalah wadah warga untuk memuat karya tulisannya.