Beranda Filsafat Kemenyatuan Subyek-obyek

Kemenyatuan Subyek-obyek

63
3
Sebarkan
Foto: Ramdani/sewarga

Hingga kini, kemenyatuan subyek-obyek merupakan persoalan besar dan mendasar dalam jagat ilmu pengetahuan. Bagaimana relasi antara subyek dan obyek itu, terus-menerus memunculkan sengkarut persoalan dalam ranah ilmu pengetahuan. Secara epistemologis, manusia berkedudukan sebagai subyek, yaitu esensi yang terus-menerus aktif menggali makna dan menguak hakikat kehidupan berdasarkan perspektif ilmu pengetahuan. Sedangkan ontologi-ontologi sebagai obyek, merupakan sasaran penyelidikan manusia dalam peran dirinya sebagai subyek di alam semesta. Pertanyaan hepotetiknya kemudian: menyatu atau terpisahkan subyek dan obyek?

Prinsip-prinsip obyektivitas yang diterima secara universal dalam jagat ilmu pengetahuan modern ternyata amat sangat tajam memosisikan secara terpisah keudukan subyek dan obyek. Dunia ilmu pengetahuan masih bersikukuh pada pemahaman tentang subyek versus obyek. Dalam keterpisahan itu, subyek senantiasa dibiarkan berkuasa atas obyek. Subyek diberi ruang yang sangat luas untuk mendeterminasi obyek. Atau, obyek terus-menerus terpuruk dalam subordinasi subyek. Dengan pola relasi sedemikian rupa itu maka tak berlebihan manakala disimpulkan, bahwa sesungguhnya subyek semena-mena terhadap obyek. Artinya, ilmu pengetahuan diperhadapkan pada kediktatoran subyek, dengan obyek sebagai pihak yang ternistakan.

Dewasa ini, prinsip-prinisp obyektivitas semacam itu sudah tak relevan lagi diperlakukan sebagai fundamen dasar tegaknya bangunan ilmu pengetahuan. Sebab, inilah pola relasi yang hanya melahirkan pandangan dunia (Weltanschauung) yang pincang. Ilmu pengetahuan dipedagogikan untuk senantiasa berkembang secara asimetris tanpa harmoni, dalam konteks terjalinnya relasi antara subyek dan obyek. Tatkala Weltanschauung semacam ini terus mengkristal, maka atas nama ilmu pengetahuan manusia [yang telah terlatih dalam sejarah peradaban berperan sebagai subyek] semena-mena memperlakukan ontologi apa pun. Puspa ragam ontologi semata dimengerti sebagai obyek penderita yang disudutkan untuk hanya menampung ambisi egosentrisme manusia. Jika kemudian timbul penistaan terhadap realitas-realitas eksternal manusia, maka itulah dampak buruk yang tak terelakkan kehadirannya. Ini berarti, patologi antropologisme kian berpilin-pilin, mendistorsi eksistensi kehidupan umat manusia pada khususnya serta meluluh lantakkan peradaban pada umumnya.

Agenda besar rehabilitasi keberadaan dan kebermaknaan ilmu pengetahuan kini jelas dan tegas, yakni sejauhmana ilmu pengetahuan mampu mewadahi timbulnya pola relasi secara harmoni antara subyek dan obyek. Itulah persoalan besar yang musti dituntaskan secepatnya sekarang ini, sebagai bagian dari upaya menemukan jalan untuk menyelamatkan kehidupan umat manusia dari kehancuran.

Apalagi, epistemologi penyatuan subyek-obyek sesungguhnya telah tersedia sejak abad XVII, tatkala filosof besar Mulla Sadra (1572-1640) merumuskan visi filosofis yang kemudian dinomenklaturkan sebagai ittihad al-‘aqil wa al-ma-‘qul (kemenyatuan subyek dan obyek). Dengan visi filosofis Sadra, integrasi subyek dan obyek bukan lagi sebuah probabilitas untuk dapat diperlakukan dengan segera, tapi malah merupakan sebuah keniscayaan yang tak terelakkan. Maka, pertanyaan hepotetik berikutnya: adakah kini kemauan kuat di kalangan pencinta ilmu pengetahuan untuk mengupayakan terjadinya integrasi atau penyatuan antara subyek dan obyek?

Merujuk pada visi filosofis Mulla Sadra, terjadinya relasi secara koherens antara subyek dan obyek memunculkan dua implikasi positif. Pertama, kemenyatuan subyek-obyek merupakan dasar bagi terciptanya ilmu pengetahuan. Kedua, korelasi subyek-obyek merupakan jalan bagi terbentuknya kesatuan-kesatuan eksistensial berbagai macam ontologi di alam semesta. Bagaimana pun, manusia adalah ontologi secara esensial, seperti halnya ontologi-ontologi lain di alam semesta. Eksistensinya sebagai subyek dalam proses terciptanya ilmu pengetahuan justru meneguhkan posisinya sebagai satu kesatuan ontologis. Sehingga karena itu, dalam diri manusia tersedia sebuah kerangka logis untuk dapat berhubungan secara serta-merta dengan ontologi-ontologi lain di alam semesta.

Dalam salah satu aforisme filosofisnya, Mullah Sadra berkata: “ . . . sudah menjadi karakteristik jiwa manusia untuk mempersepsi seluruh hakikat yang ada agar bersatu dengan diri sang manusia.”

Ini berarti, ke arah mana pun manusia menghadapkan wajah, ke arah itu pula manusia menemukan hakikat-hakikat. Kapasitas manusia menangkap makna hakikat-hakikat yang tersebar luas di alam semesta sepenuhnya bergantung pada kerelaan sang manusia untuk menyatukan eksistensi dirinya sebagai subyek dengan seluruh hakikat sebagai obyek. Dengan demikian, subyek-obyek hanyalah persoalan kategori belaka. Keduanya sekufu, atau berada dalam titik kesederajatan untuk secara bersama terlibat aktif dalam proses keterciptaan ilmu pengetahuan. Apalagi, jiwa manusia senantiasa terbuka untuk menyatukan wujud dirinya dengan berbagai macam hakikat yang inherent ke dalam ontologi-ontologi.

Bagaimana visi filosofis Sadraian itu dimengerti? Baik manusia maupun ontologi-ontologi yang terserak dalam lingkup eksternalitas manusia, menurut Mulla Sadra, merupakan wujud. Bersama ontologi-ontologi, manusia merupakan wujud. Dalam Filosofi Transenden (Hikmah Muta’alliyah) Mulla Sadra lalu terdapat sebuah rumusan, bahwa wujud merupakan sesuatu yang tunggal dalam gradasi berbeda-beda. Persis sebagaimana sebelumnya telah terumuskan dalam Filsafat Iluminasi (Hikmah Isyraqiyah) Shahab al-Din Suhrawardi (1155-1191), setiap benda, materi dan partikel merupakan cahaya pada gradasi tertentu, atau pada level tertentu.

Visi filosofis ini benar-benar mengklarifikasi kedudukan subyek dan obyek dalam jagat ilmu pengetahuan. Sekali pun berbeda secara kategoris, subyek dan obyek sama-sama berkedudukan sebagai wujud. Prinsip filosofis inilah yang meneguhkan adanya suatu kongklusi, bahwa jiwa manusia [sebagai subyek] menciptakan wujud mental. Obyek dan atau kebermaknaan obyek lalu menembus masuk ke dalam keharibaan jiwa manusia [sebagai subyek]. Tanpa hadirnya prinsip kesatuan wujud, maka mustahil obyek masuk dan tercerap oleh jiwa manusia. Apel takkan pernah dimengerti sebagai apel jika tidak ada kesatuan wujud antara apel dan jiwa sang manusia.

Dari semua ini jelas, bahwa subyek dan obyek sama-sama berkedudukan sebagai wujud. Dan ternyata, wujud bukanlah semata sesuatu yang tunggal dalam gradasi plural. Lebih dari itu, wujud merupakan substansi yang hakiki. Baik subyek maupun obyek, pada dirinya merupakan substansi yang hakiki. Maka, determinasi subyek atas obyek, atau pendiktean subyek atas obyek, atau obyek yang terposisikan di bawah tekanan subordinasi subyek, sesungguhnya merupakan keadaan yang kosong dari outstanding filosofis, atau keadaan yang sepenuhnya absurd.

Maka, sudah saatnya kini mengakhiri penistaan obyek oleh subyek, agar hidup sepenuhnya manusiawi, maslahat dan estetik. Sudah saatnya pula obyek dihormati sebagai bagian inherent dari keberadaan dan kebermaknaan subyek. Semoga dengan visi filosofis semacam ini dapat dicegah kehancuran ekosistem kehidupan serta dapat ditangkal gelombang kemunculan krisis sistem-sistem kehidupan.[]
Anwari WMK


Artikel ini ditulis oleh kontributor. Segala proses penulisan diluar tanggung jawab sewarga. Sewarga adalah wadah warga untuk memuat karya tulisannya.