Beranda Budaya Tak Berkesadaran Sejarah

Tak Berkesadaran Sejarah

44
1
Sebarkan
Foto: Ramdani/sewarga

APAKAH sebuah bangsa mampu meraih kemajuan secara signifikan di masa kini dan di masa depan jika bangsa tersebut ternyata tak memiliki kesadaran sejarah? Jawabnya: “Tidak mungkin”. Itu karena, manusia merupakan mahluk sejarah par excellence. Manusia hidup dalam arus dan gelombang sejarah. Manusia senantiasa berdiri di atas bentangan-bentangan panjang sejarah.

BANGSA LOYO-PARIAH

Sejarah, sebagaimana kita tahu, merekam hal ihwal kehidupan umat manusia di masa lampau. Kebudayaan dan realitas hidup di masa lampau tercatat dalam sejarah. Sementara itu, segala macam kemajuan yang berhasil digapai manusia bersifat akumulatif. Kemajuan hidup umat manusia di masa kini merupakan kelanjutan penyempurnaan dari kemajuan demi kemajuan yang telah berhasil dicapai oleh manusia di masa lalu. Maka, tak ada kemajuan yang berwatak ahistoris. Setiap kemajuan di masa kini dan masa depan, penggalan jejaknya tertoreh di masa lalu, bahkan di masa lalu yang panjang.

Sejarah lalu mutlak ditelaah dalam konteks tercapainya kemajuan hidup umat manusia yang bersifat kontinum, dari masa ke masa. Jika kemajuan hidup umat manusia di masa lalu merupakan permulaan, maka kemajuan umat manusia di masa kini merupakan kelanjutannya. Untuk dapat mempersambungkan “permulaan” dan “kelanjutan” dibutuhkan upaya penyingkapan fakta di balik debu-debu kehidupan masa lampau.

Ambil contoh soal kuliner dan gaya hidup yang berkembang di masa kini. Jelas semuanya mengambil titik tolak dari sejarah. Perkembangan kuliner dan gaya hidup di masa kini merupakan format baru yang konsep dan aplikasinya merujuk pada kuliner dan gaya hidup masa lalu. Begitu pula halnya dengan perkembangan sains, teknologi, dan falsafah pada kurun mutakhir memiliki jejak perkembagan awal di masa lampau yang telah menyejarah. Maka, pola-pola kebudayaan, keagamaan, sistem sosial dan sistem politik yang kita temukan pada hari ini, geneologinya dapat ditemukan dalam sejarah.

Kesadaran tentang kemajuan hidup sesungguhnya merupakan kesadaran tentang sejarah. Mutlak bagi setiap bangsa memupuk kesadaran bersejarah. Agar, bangsa tersebut saksama menggapai kemajuan. Persoalannya kemudian, apakah Indonesia merupakan bangsa yang seutuhnya berkesadaran sejarah? Jawabnya: “Tidak”. Baik masyarakat maupun pemerintahan tak berkesadaran sejarah. Realitas hidup masa kini dialpakan dan diputuskan kaitannya dengan realitas hidup di masa lampau. Indonesia lalu tercatat sebagai bangsa besar yang loyo, bahkan tertabalkan sebagai bangsa besar yang pariah.

KEGAGALAN TRANSFORMASI

Salah satu bukti tak adanya kesadaran sejarah itu adalah sangat rendahnya penghargaan terhadap situs-situs sejarah. Pemerintah dan masyarakat setali tiga uang, sama abainya terhadap situs-situs sejarah. Situs-situs sejarah diperlakukan sebagai ornamen-ornamen mati warisan beku masa lampau. Pemerintah dan masyarakat pun tak terlatih menggali inspirasi dari situs-situs sejarah, agar hidup dan kehidupan di masa kini bermartabat.

Dalam contoh kasus keberadaan candi-candi peninggalan Kerajaan Singasari di Malang, Jawa Timur, kita menyaksikan situasi yang menyedihkan. Pada satu sisi, candi-candi tersebut terdesak keberadaannya oleh ekspansi permukiman penduduk. Pada lain sisi, situs-situs tersebut tak dapat diteliti secara mendalam untuk menemukan makna dan hakikat kehidupan umat manusia di masa lampau. Candi Jago yang dibangun pada 1280 merupakan tempat penyimpanan abu raja ke-4 Singasari, Wishnu Wardhana. Dengan ukuran 24 meter X 14 meter dan tinggi 17,5 meter, terdesak keberadaannya oleh permukiman penduduk dalam radius 2 meter hingga 3 meter. Candi yang teronggok di Dusun Jago, Kecamatan Tumpang itu, kini sulit direnovasi karena halamannya yang sempit.

Candi Kidal di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, berdiri di atas lahan 870 meter per segi. Namun tragisnya, candi yang dibangun pada 1284 itu berhimpitan dengan permukiman warga. Bahkan, candi berdimensi 108 meter X 8,5 meter, tinggi 12,26 meter itu pagar halamannya berbatasan langsung dengan tembok rumah warga. Celakanya lagi, pada sisi candi berdiri peternakan ayam, menebarkan bau menyengat yang tak sedap.

Candi-candi lain yang juga tertimpa nestapa adalah Candi Badut, Candi Singhasari, dan Candi Patirtaan Watu Gede. Agar sepenuhnya mampu menginspirasi generasi masa kini, maka niscaya bagi candi-candi tersebut disingkapkan makna filosofis struktur-struktur bangunannya melalui serangkaian penelitian secara mendalam.

Fakta-fakta tragis tersebut membawa kita sampai pada satu titik kesimpulan: Kesadaran sejarah atau kesadaran untuk menghormati sejarah belum berkembang di negeri ini. Situs-situs sejarah yang sejatinya dijaga dan dirawat itu, malah diterbengkalaikan. Situs-situs sejarah diperlakukan sebagai ornamen masa lampau yang diamputasi daya dan kemampuan inspiratifnya untuk keperluan menjawab tantangan kehidupan masa kini dan masa depan. Perlakuan buruk terhadap situs-situs sejarah ini sama saja maknanya dengan membiarkan generasi masa kini gagal merengkuh inspirasi-inspirasi kemanusiaan yang transenden.

Akibat buruknya perlakuan pemerintah dan masyarakat, maka makna fundamental yang terkandung dalam situs-situs sejarah gagal ditransformasikan menjadi pandangan filosofis. Inilah persoalan besar yang justru merintangi Indonesia agar sepenuhnya bermetamorfosis menjadi bangsa yang terhormat dan sekaligus diperhitungkan di dunia.[]
Anwari WMK


Artikel ini ditulis oleh kontributor. Segala proses penulisan diluar tanggung jawab sewarga. Sewarga adalah wadah warga untuk memuat karya tulisannya.

1 Komentar

Comments are closed.