Beranda Politik Politicking

Politicking

27
0
Sebarkan

Apakah yang anda ketahui prihal mental politisi negeri ini akhir-akhir ini? “Politic is perhaps is thought necessary” Mungkin kalimat ringkas dari Robert Louis Stevenson itu membantu mengambarkan suasana perpolitikan negeri hari-hari ini.

Belakangan ini, daya beli masyarakat menurun, dan dolar ngelonjak naik, orang-orang kecil atau wong cilik sedang terseok-seok mencari pekerjaan yang memang susah di cari. Sehingga fenomena berebut telur pecah untuk di konsumsi pun jadi lumrah. Sementara itu, para elit politik masih ngomel soal stabilitas negara, sibuk berbicara soal elektabilitasnya yang merangkak, serta jungkir-balik dalam lobi-lobi koalisi. Tujuannya simple, untuk tetap menikmati lebih lama kekuasaan. Tetapi begitulah yang terjadi dengan politik hari-hari ini. Politisi dengan mudahnya mengucapkan janji akan meningkatkan Ekonomi wong-cilik. Dan ironis-nya, kebanyakan dari mereka justru tidak bisa membedakan daging sapi dari daging kebo.

Memang politisi yang baik adalah yang selalu bersedia mendengarkan aspirasi Publik. Dan politisi yang plongak-plongok hanya bisa melaksanakan instruksi Seniornya. Tetapi politisi yang paling lucu dan galau terus, ialah yang plenca-plence, pagi memilih Aspirasi Publik dan sore-nya intruksi dari Seniornya. Dan yang terakhir ini, biasanya tidak cukup punya nyali untuk memposisikan dirinya sendiri sebagai Lurah atau jongos utusan partai-nya.

Bahkan Kita telah biasa mendengarkan pemimpin negara, yang menutupi kekeliruannya, dengan cara menyalahkan rezim sebelumnya, di saat negara sedang menghadapi ketidak-stabilan yang timbul Akibat ketidak-mampuannya untuk tidak membuat krisis. Bisa di pastikan hanya Soekarno saja, presiden indonesia yang tidak pernah menyalahkan kebijakan rezim sebelumnya. Maka hampir setiap detik kita saksikan di media, para elit politik sibuk membagi tugas simbiosis mutualisme: yakni, “tugas partai oposisi adalah mengkritik kebijakan penguasa, tugas penguasa itu mengkambing-hitamkan kebijakan rezim penguasa sebelumnya. Dan tugas rezim sebelumnya ialah mendukung partai oposisi.” Dan apabila ada wongcilik meminta mereka berhenti dari kedunguan yang tidak ada gunanya, dan malah menghabiskan energi juga biaya itu. Maka ketiga-tiganya langsung memusuhi-nya (wong-cilik).

Itulah kenapa untuk mengganti suasana perpolitikan negeri ini, itu sebuah keniscayaan. Bahkan Jose Maria De Eca Queiroz pernah berkata; “politisi dan popok (pempers) bayi harus sering di ganti, dan keduanya di lakukan karena alasan yang sama.”

Adalah Pericles, disebut sebagai kepala negara konstitusional terbesar pada masa lampau, dan sebenarnya daftar prestasinya memang cukup mengesankan. Pericles memiliki bakat nyata sebagai pembicara publik dan memasuki gelangang arena politik tahun 469 SM bagi pihak demokrat. Ia mengalakan rival-nya, Thucydides (lebih-kurang 460-400SM) dan akhirnya menjadi penguasa Athena, negara kota yunani paling super-power waktu itu, serta membawanya ke puncak kejayaan.

Sejak berkuasa, Pericles langsung membuat kebijakan untuk membangun infrastuktur-infrastuktur luar biasa. Ia membangun amarda Athena dalam berbagai pertempuran, menyerang Delphi dan memadamkan pertempuran di Euboea dan Samos. Ia menghiasi Athena dengan berbagai bangunan-bangunan umum yang besar, mencakup Partheon. Bahkan konon tidak ada satu pun insfastruktur yang ia bangun, di tengah jalan tiba-tiba ada yang mangkrak. Tidak sampai di situ, Pericles juga memperkenalkan sistem politik yang benar-benar demokratis, di mana setiap warga negara bisa mengepalai kantor pelayanan umum. Ia juga mempelopori adanya gaji bagi pegawai sipil dan pinjaman bagi kaum miskin.

Istri Pericles, Aspasia dari Miletus (kurang-lebih 470-410), yang di kenal memiliki kecantikan luar dalam dan wawasan politiknya, adalah pelindung bagi filsuf besar Socrates (469-399 SM), dan Aspasia adalah seorang partner yang berharga selama pemerintahan Pericles. Artinya, sepasang suami-istri itu bukan orang-orang yang plonga-plongo. Terbukti Athena memasuki masa keemasannya dan menjadi pusat seni dan budaya di daerah laut tengah sebelah timur berkat kepemimpinan Pericles. Dan tidak pernah lagi menikmati tingkat kegemerlapan seperti pernah dialaminya di bawah kepemimpinannya.

Oke, Untuk mengakhiri tulisan ini, saya harus mencari cara agar tulisan ini bisa selesai. Maka ada baiknya saya ucapkan kembali adagium dari Aristoteles, “Zoon Politicon”, yakni manusia pada dasarnya adalah binatang yang berpolitik, bukan binatang politik (sekali lagi, bukan binatang politik). Artinya, ia berbicara politik sebagai debat kebijakan, bukan kasak-kusuk elit berebut kekuasaan.


Artikel ini ditulis oleh kontributor. Segala proses penulisan diluar tanggung jawab sewarga. Sewarga adalah wadah warga untuk memuat karya tulisannya.