Beranda Agama Literacy adalah pintu Peradaban.

Literacy adalah pintu Peradaban.

52
0
Sebarkan

Penulis : Rifki Rahman Taufik
Hobi : Bermain Bola
Alamat :Pucuk -Lamongan.
(Foto: penulis)

Apakah yang anda ketahui tetang mangfaat membaca? Apakah anda pernah melihat bangsa yang di pimpin cerdik-pandai. Bangsa jika bodoh, dia akan mengusir maling dengan duit. Itu yang terjadi sekarang di hampir semua hal, bukan cuma freeport.

Lubuk akal, tepian ilmu. Artinya, buka pintu pikiran dengan membaca. Maka slogan, “Baca”, “baca”, “baca” baru kerja, itu yang subtansial. Jangan terbalik, “kerja, kerja, kerja” tapi tidak berpikir. Karena bangsa yang cerdik-pandai itulah tempat berperadaban. Dan Adab itu pola-pikir. Dan Pikiran yang terbuka seperti “tukang kayu” yang sebelum melakukan tindakan ia akan mengukur dulu sampai dua kali, baru memotong sekali (efesiensi). Tapi kalau cuma bisa “kerja, kerja, kerja” saja tanpa mengukur, itu perkerjaan ngelem kayu. Karena lem kayu hanya cukup di oles saja, maka ia langsung merekat, tanpa di pikir bagaimana cara kerjanya lem tersebut.

Alexander yang agung adalah (putra Philip II) dari makedonia. Alexander mengantikan ayahnya pada usia 20 tahun, tapi ia adalah pria yang cerdas. Alexander telah melakukan apa yang gagal dilakukan oleh bangsa persia pada abad sebelumnya: ia mendirikan kerajaan yang luas dan meliputi eropa serta asia, bahkan pada usia 33 tahun, ia sudah memerintah daerah yang 50 kali lebih besar juga berpenduduk 20 lebih banyak dibanding kerajaan yang ia warisi dari Philip ayahnya. Dan terbentang dari Yunani hingga ke india. Itulah sebabnya ia di kenal sebagai Alexander yang agung.

Tapi semua prestasi Alexander itu bukan karena kebetulan belaka. Alexander adalah salah satu murid dari filsuf yang besar, yakni Aristoteles sang dedengkot filsafat itu. Alexander, Meski ia hanya memimpin selama 13 tahun, tetapi hanya dalam masa tersebut ia mampu membangun kerajaan lebih besar daripada yang pernah ada.

Kegemilangan kekaisaran Alexander adalah, bahwa untuk pertama kalinya, dalam sejarah umat manusia, bisa terjadi pertukaran ide yang bebas antara berbagai kebudayaan dalam dua area yang sangat luas dan yang sebelumnya telah terisolasi satu dengan yang lainnya. Tidak seperti kebanyakan pemimpin lainnya yang sedang menikmati kejayaan, Alexander bukan cuma reseptif (terbuka) dengan berbagai pemikiran meski itu dari bangsa yang ia taklukkan. Bahkan ia tidak segan-segan untuk menerapkan pemikiran yang ia pelajari dengan sungguh-sungguh dari organisasi politik Persia. Karakteristik Itu tentu ia serap dari Aristoteles gurunya. Sebelum kematian alamiahnya pada usia 33 tahun, Alexander juga membangun kota alexandria di mesir, di mana perpustakaannya yang memiliki koleksi buku-buku hebat pikiran seluruh peradaban dunia itu telah bertahan selama ribuan tahun dan berkembang menjadi pusat pembelajaran di dunia.

Setelah kematian Alexander pada tahun 323 SM, ia dianggap sebagai jendral dan pembangun kekaisaran terbesar yang pernah dikenal dunia. Bahkan hingga sekarang, nyaris dua belas abad berikutnya, ia hanya memiliki Enam orang rival yang menyaingi prestasinya.

Jadi, sadarilah bahwa menuntut ilmu itu sangat penting dalam membangun bangsa. Maka, bacalah, bacalah, bacalah. Karena menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap masyarakat (muslim). Dan memberi fasilitas keilmuan untuk mencerdaskan bangsa itu kewajiban negara dalam amanah pembukaan undang-undang dasar 1945 (baca lagi itu).


Artikel ini ditulis oleh kontributor. Segala proses penulisan diluar tanggung jawab sewarga. Sewarga adalah wadah warga untuk memuat karya tulisannya.