Beranda Inspirasi Arongansi yang Bermuka Ndeso

Arongansi yang Bermuka Ndeso

76
0
Sebarkan

Penulis :Rifki Rahman Taufik
Alamat : Pucuk – Lamongan
Dok.Aktual

Apakah yang anda ketahui tentang Arogansi? Arogansi itu bukan hanya sifat, tapi juga syiasat busuk: itu bisa di cari dengan mudah dari tampang para politisi. Dan Apakah yang anda ketahui soal bermuka dua, ia seperti duit receh gopekan, punya dua sisi namun tidak begitu berharga.

Sebenarnya, kebebasan berbeda pendapat adalah Ruh Demokrasi. Tapi justru itu sekarang yang susah di cari. Bagaimana bisa di sebut berdemokrasi, bila mengucapkan Sartire saja sudah di tafsir menghina pemimpin tertinggi. Padahal sartire adalah ucapan kritik yang paling intelektual, dan jarang ada sekarang ini. Artinya, muka etis itu bukan tampang yang Ndeso, tapi bisa di pegang ucapannya.

Pertanyaannya, ucapan dalam janji-janjinya untuk tidak menaikkan harga BBM, listrik, mensejahterakan petani, nelayan dan sebagainya, saat masih menggemis surat suara dulu, kini dia ingkari dengan membayar tunai dengan melonjaknya harga BBM, Dolar, Listrik, impor beras (meski musim panen), reklamasi dan sebagainya. Bahkan daging sapi naik, rakyat dianjurkan ganti konsumsi daging kebo, ikan kaleng ada cacingnya, dibilang cacing mengandung protein, cabe mahal, rakyat dihimbau tanam cabe dipekarangan rumah. Semua itu solusi cerdas atau tidak, terserah pembaca yang menilainya. Yang jelas itu seperti ada hujan atap ada yang bocor dan menetes mengenai kasur, lantas hanya menggeser kasur itu, terus dianggap sebagai solusi atau masalahnya selesai. Maka jika ada yang mengkritik itu, cepet-cepet di bungkam. Pendek kata, hanya dia saja yang bertampang Ndeso yang boleh ngomong, karena Ndeso identik dengan Etis, meski ucapannya tidak singkron dengan kenyataan.

Ada sebuah cerita, dulu ada seorang pengarang yang sudah menulis tiga novel. yang pertama, berjudul, “mobil listrik bengawan solo”. kedua berjudul, “banjir kotak-kotak DKI”. dan ketiga berjudul, “Revolusi jiwa”. Ketiganya jadi buku laris manis. Karena itu, dia sering muncul di TV dan koran-koran, diundang ke berbagai pesta dan di puji-puji. Semua itu menyebabkan dia suka menceritakan mengenai dirinya sebagai Pejuang Demokrasi, dan dia pun senang bicara bukunya tanpa memberi peluang kepada orang lain untuk berbicara hal yang sama, apalagi yang beda dengannya.

Pada suatu hari, dengan lembut istrinya (yang ia pimpin) memberikan analisa mengenai sikap suaminya tersebut. Lalu, si istri memberi saran, yaitu saat suaminya terlalu asyik bicara tetang dirinya sendiri, si istri akan mengeluarkan suara nafas berat atau batuk. Agar si suami berhenti dan memberi peluang kepada orang lain juga, supaya ada pertukaran ide dan gagasan.

Suatu saat, ada seorang tamu datang ke rumah sang pengarang itu. Mereka berbincang-bincang, dan seperti biasa, si pengarang asyik menceritakan mengenai dirinya. Maka, si istri pun batuk-batuk sambil bernafas ngos-ngosan untuk memberikan isyarat agar berhenti. Tiba-tiba, pengarang itu berhenti berbicara dan berkata, “cukuplah saya bercerita mengenai diri saya. Sekarang, mari kita berbincang mengenai dirimu. Apakah pendapat kamu mengenai keberhasilan saya?”

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita tersebut, salah satunya adalah, “Sumpal telinggamu jika tidak tahan terhadap analistik (kritik). Jangan malah sumbat mulut orang lain. Sebab, kebebasan berpendapat itu Ruh Demokrasi.


Artikel ini ditulis oleh kontributor. Segala proses penulisan diluar tanggung jawab sewarga. Sewarga adalah wadah warga untuk memuat karya tulisannya.